Banyak orang mengatakan, salah satu hal sangat mengasyikkan Saat solo traveling merupakan berteman dengan masyarakat lokal serta menemukan kenalan baru. Tetapi, hal itu tidak selamanya gampang. Terdapat sebagian hal yang umumnya aku jalani buat mendekatkan jarak dengan mereka.
1. Membahas cuaca
Terdengar biasa, tetapi jitu.
Saat terletak di Karimunjawa, Saat itu cuaca lumayan berawan serta angin berhembus cepat sampai bawa aroma laut yang khas ke darat. Aku bersandar di bangku kusen reot bersama seseorang masyarakat lokal owner homestay, laki- laki catok berumur dengan rokok yang senantiasa melekat di mulutnya.
Awal mulanya kita cuma silih berbasa- basi, sehabis aku bertanya Mengenai cuaca yang dingin serta kerap angin besar, sang owner homestay langsung rumpi jauh luas. Tidak hanya membuka pelayanan hotel, dirinya merupakan nelayan. Sebab cuaca kurang baik ia tidak dapat berlayar sebagian hari serta kapal ferry juga tidak dapat mendekat. Bila telah sedemikian itu, umumnya harga ikan hendak turun sebab para nelayan hempas harga, dari ikan memburuk di penyimpanan.
Dari cuma percakapan pendek mengenai cuaca, aku menemukan banyak data‘ lokal’ dari sang laki- laki itu.
2. Jadi‘ sok ketahui’
Sok ketahui didepan masyarakat lokal malah sering- kali dapat membuat kita jadi dekat dengan masyarakat lokal.
Saat terletak di Lapangan Besar Dieng, aku sok ketahui menggambarkan mengenai carica. Aku memanglah tidak sangat ketahui mengenai buah satu ini. Saat itu aku serta sebagian sahabat membeli gula- gula carica di suatu rumah makan. Gula- gula carica itu dikemas dalam suatu tempat plastik, mendekati jajanan agar- agar yang kerap dijual buat kanak- kanak.
Sebab komposisi serta rupanya yang mendekati mempelam aku beranggapan carica sedang satu tipe dengan mempelam. Aku mengajukan anggapan itu didepan sahabat aku yang cuma menganggut- anggut mengikuti uraian aku.
Sang owner rumah makan mencermatinya, serta tersimpul mengikuti asumsi aku. Ia menarangkan bila carica itu sesungguhnya pepaya. Pepaya khas Dieng. Bunda owner gerai dengan rambut yang banyak dipadati rambut putih menunjukkan umurnya yang mulai petang, apalagi mengajak kita memandang tumbuhan carica langsung di balik rumah makannya. Serta, di luar asumsi kita bisa memetik sebagian buah carica matang buat dibawa kembali selaku bawaan. Seluruh berasal dari ke- sok tahuan.
3. Menanya arah
Ini aku jalani di Jogja. Aku bepergian seseorang diri di Alun- alun Kidul Jogja. Tempat ini tidak jauh berlainan dari Saat kunjungan aku 1 tahun kemudian. Sedang dipadati banyak orang yang padat jadwal berjalan memakai penutup mata kesana kemari. Kelainannya, rumputnya kian meningkat besar tidak terpelihara.
Aku bersandar dipinggiran sehabis letih berkelana, disamping rental penutup mata. Dari bersandar melamun, aku main- main menanya pada mas- mas yang menyewakan penutup mata.
‘ Abang, jika ke Jalur Parangtritis dari mari arahnya kemana betul? Jika jalur kaki berapa lama?’
‘ Astaga, jauh abang, mendingan naik taksi, esok di gerbang plengkung itu abang kelok kiri, lurus lalu, terdapat belokan besar kelok kanan, itu Jalur Parangtritis,’ Ia menarangkan dengan perinci.
Ia menanya mengapa aku seorang diri sebab umumnya yang tiba ke Alun- alun kidul merupakan pendamping ataupun kaum. Aku ceritakan saja jika aku ditinggal kaum. Ia tersimpul. Ia menceritakan banyak sehabis itu, mengenai Alun- alun kidul yang dahulu lumayan hening, serta kira- kira terasa misterius menurutnya, saat ini senantiasa marak oleh wisatawan yang penasaran berjalan di antara 2 tumbuhan beringin.
Penasaran, aku menanya keuntungannya satu hari.
“ Jika lagi akhir pekan ataupun masa liburan aku dapat bisa profit Rp 300. 000,- sampai Rp 500. 000,- Mas. Jika hari lazim berkisar Rp 100. 000,- sampai Rp 200. 000 per hari,’ ia menceritakan sembari lalu melayani penyewa.
Jumlah yang lumayan besar menurutku. Ia tidak memerlukan modal besar, cuma dekat 10 kain penutup. Sehabis itu ia bersandar bebas menanti penyewa sambil asik main facebook di smartphonenya.